JAKARTA, KOMPAS.com - Asia memiliki jumlah jumlah
pengakses web terbanyak di dunia, menyusul Eropa dan Amerika. Namun,
Jumlah tersebut tidak dimanfaatkan pengusaha digital Asia untuk
melakukan inovasi. Banyak situs kloningan ditemukan di Asia.
Kloningan
terbanyak yang ditemukan di Asia adalah situs Path dan Xianoei. Bahkan
Koprol milik Indonesia pun sudah dikloning di China. Groupon juga
mengalami kloningan tanpa mengubah nama website sehingga seolah-olah
website tersebut merupakan Groupon versi Asia. Facebook dan Twitter pun
mengalami hal serupa.
Hal ini disampaikan Serkan Toto, koresponden
Jepang untuk TechCrunch saat menyampaikan seminar Sparx Up Award 2011.
"Jika ingin mengadopsi suatu web, jangan sampai semua konsepnya diambil,
bahkan namanya tidak diganti. Anda bisa mengadopsi teknologi tetapi
masukkan inovasi sehingga produk yang Anda tawarkan berbeda," ujar
Serkan Toto di Grand Ballroom Kempinski, Jakarta, Jumat (21/10/2011).
Kebanyakan
kloning yang ditemukan Serkan Toto memang hasilnya buruk. Menurutnya,
website-website tersebut menjadi buruk bukan hanya karena hasil
kloningan, melainkan memang dibangun dalam sistem yang buruk.
"Harus
ada masalah yang ingin dipecahkan. Dengan begitu, mengadopsi teknologi
apapun, website anda akan tetap berbeda," tambahnya.
Inovasi
menurut Serkan Toto adalah membuat sesuatu yang baru meski berasal daris
esuatu yang sudah ada, bukan menjiplak mentah-mentah apa yang sudah
ada. Kualitas servis yang ditawarkan menjadi taruhan akan perkembangan
sebuah perusahaan digital yang sedang dibangun. Berdasarkan
pengamatannya, jumlah start-up berkualitas di Asia masih snagat rendah.
Hal ini disebabkan oleh sumber daya manusia dalam industri start-up yang
belum berkualitas.
Banyak
angel investor yang sudah siap dengan dana namun para
founder belum
siap mengahadapi mereka. Ditambah lagi data mengenai masih sedikit
sekali orang Asia yang memiliki mindset entrepreneur. Namun, bicara
mengenai inovasi, bukan berarti Asia kalah telak.
Ada pula
beberapa inovasi yang dilakukan negara-negara Asia yang bermanfaat bagi
kehidupan. Contohnya adalah inovasi Mobile Web yang dimulai di Jepang
tahun 1999. Saat itu Jepang memiliki iAppli, yakni web browser pada
ponsel yang memungkinkan pengguna bisa melakukan donwload program,
aplikasi, dan game hanya dengan membuka satu browser bikinan Jepang. Ini
contoh
solve problem yang dimaksud Serkan Toto.
Contoh inovasi lainnya adalah
online gaming
dan visual goods yang dimulai di Korea tahun 1996. E-Publishing dimulai
di Jepang pada tahun 2006. Industri Broadband berkembang di Singapura,
Hongkong, dan Jepang sejak 1998. Semuanya menawarkan inovasi yang cukup
baik dimata Serkan Toto.
Sumber : http://tekno.kompas.com/read/2011/10/21/17470437/Jangan.Asal.Mengkloning.Web