Tampilkan postingan dengan label Commonwealth Life. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Commonwealth Life. Tampilkan semua postingan

Minggu, 13 Januari 2013

Asuransi Pendidikan untuk Anak

Anda dan pasangan dapat menyiapkan biaya pendidikan anak melalui berbagai pilihan produk keuangan, salah satunya asuransi pendidikan. Asuransi pendidikan dapat menyediakan biaya pendidikan mulai SD, SMP, SMU, hingga Universitas.

Untuk mendapatkan tanggungan biaya, Anda harus membayar premi yang besarnya bisa ditentukan sesuai keinginan Anda. Semakin besar uang pertanggungan yang ingin didapat, semakin besar biaya premi yang harus dibayarkan. Jenis asuransi ini bisa cair (cash) per termin, misalnya, ketika anak harus masuk SD, SMP, SMA dan Universitas.

Sebagai ilustrasi: uang pertanggungan (UP) Rp 100 juta dan premi yang harus dibayar per tahun sekitar Rp 8 juta. Salah satu penyedia jasa asuransi akan mengeluarkan biaya asuransi pedidikan setiap kali anak masuk sekolah, dengan ketentuan sebagai berikut: SD 10 persen dari UP atau Rp 10 juta; SMP 15 persen dari UP atau Rp 15 juta; SMA 25 persen dari UP atau Rp 25 juta; Universitas 50 persen dari UP atau Rp 50 juta.

Setelah kontrak selesai biasanya ketika anak berusia 21, akan keluar dana cash 100 persen dr UP atau Rp 100 juta. Total biaya yang bisa didapat adalah 250 persen dari UP.

Kelebihan dari asuransi pendidikan di antaranya:
* Premi hanya dibayar selama 10 tahun. Setelah itu bebas premi namun anak masih mendapat biaya pendidikan sampai selesai.
* Bisa mendapatkan biaya pendidikan per tahapan sekolah.
* Ketika orangtua meninggal padahal baru membayar premi selama tiga tahun, maka selanjutnya bebas bayar premi sementara pertanggungan akan jalan terus.

Sedangkan kelemahannya, UP yang didapat seringkali tidak bisa menutupi biaya pendidikan yang cenderung semakin mahal. Supaya bisa menutupi, peserta harus meningkatkan biaya premi yang harus dibayarkan per tahun atau per bulan.

sumber : http://female.kompas.com/read/2012/11/09/1037514/Plus-Minus.Asuransi.Pendidikan.untuk.Anak

Kamis, 10 Januari 2013

Perkembangan Asuransi Syariah Indonesia

Sebagai satu kesatuan industri keuangan syariah, perkembangan industri asuransi syariah dinilai perlu didukung dengan perkembangan aset perbankan syariah yang lebih besar. Paulus Yoga
Jakarta–Pertumbuhan industri asuransi syariah tidak bisa dimungkiri turut terpengaruh dengan pertumbuhan perbankan syariah, yang dengan pembiayaannya bisa mendorong bisnis syariah semakin bergeliat sehingga lebih banyak produk yang bisa diberikan asuransi.

“Karena aset bank syariah yang belum besar, jadi belum bisa maksimal pemberian pembiayaannya. Jadi potensi asuransi syariah juga tidak maksimal. Jadi kalau pembiayaannya tidak ada, dari sisi produk kan apa yang mau diasuransikan,” tutur Presiden Direktur PT Asuransi Adira Dinamika Indra Baruna, kepada wartawan di Jakarta, Senin, 19 November 2012.

Khusus untuk industri syariah sendiri, saat ini ada empat perusahaan asuransi jiwa syariah, dan dua perusahaan asuransi kerugian syariah. Sementara untuk unit usaha, tercatat ada 17 unit usaha syariah yang bergerak di asuransi jiwa dan 20 unit usaha syariah yang bergerak di asuransi kerugian. Sedangkan unit usaha syariah yang bergerak di bidang reasuransi baru berjumlah tiga unit.

Dari data internal yang disampaikan Asuransi Adira, dari sisi premi, untuk asuransi jiwa syariah memiliki pangsa pasar 8,30% atau sebesar Rp2,36 triliun dari total premi asuransi jiwa sebesar Rp28,41 triliun per triwulan dua 2012.

Sedangkan untuk asuransi kerugian dan reasuransi syariah memiliki pangsa pasar 5,19% atau sebesar Rp586 miliar dari total asuransi kerugian dan reasuransi syariah sebesar Rp11,3 triliun. Sehingga secara keseluruhan asuransi dan reasuransi sebesar Rp39,71 triliun, pangsa pasar syariah tercatat 7,42% atau sebesar Rp2,94 triliun.

sumber : http://www.infobanknews.com/2012/11/pertumbuhan-asuransi-syariah-perlu-dukungan-perbankan-syariah/

Selasa, 08 Januari 2013

Premi Asuransi Kesehatan Murah

‘Premi asuransi kesehatan” tempat kamu koq murah ya? atau terkadang ada juga yang bilang “premi asuransi kesehatan” tempat si “anu” koq mahal ya? sebenarnya anda sebagai nasabah harus lebih jeli dalam memilih asuransi kesehatan, artinya yang anda pilih bukan semata dari sisi murah atau tidaknya “premi asuransi kesehatan” yang di tawarkan tetapi lebih kepada manfaat yang diberikan apakah sesuai dengan kondisi keuangan anda dan gaya hidup anda, sehingga jika suatu hari ketika “musibah” menghampiri, asuransi kesehatan yang anda miliki mampu memberikan perlindungan yang maksimal bagi anda.

Asuransi pada prinsipnya bekerja seperti payung, yang diabaikan ketika musim kemarau dan akan sangat bermanfaat ketika musim hujan tiba, tetapi apakah dengan memiliki payung saja anda sudah merasa aman ? lantas pertanyaan nya seberapa besarkah payung yang anda miliki ? atau seberapa kuatkah payung tersebut ? tentu anda tidak akan mengetahuinya sebelum payung tersebut di gunakan, tetapi anda tentu memiliki hak memilih yang terbaik untuk anda ketika membelinya sehingga tidak menyesal dikemudian hari.

Lantas apakah premi asuransi kesehatan yang mahal sudah pasti bagus?  bisa iya, bisa tidak. seperti dijelaskan di atas membeli asuransi harus disesuaikan dengan kondisi keuangan anda, yang berarti tentu premi yang anda bayarkan harus sesuai dengan budget yang sudah anda anggarkan untuk biaya kesehatan sehingga tidak mengganggu maupun membebani keperluan hidup anda yang lainnya yang juga penting.
Premi asuransi kesehatan yang dibayarkan harus sesuai dengan gaya hidup anda, misalnya jika anda selama ini lebih nyaman dengan kelas VIP sebuah rumah sakit, anda disarankan agar mengambil dan membayar ” premi asuransi kesehatan ” yang memberikan layanan kelas VIP agar semua biaya perawatan rumah sakit termasuk obat obatan dan pembedahan dapat di tanggung oleh asuransi kesehatan anda sesuai dengan tagihan.

Tips bagi anda yang memiliki buget yang terbatas namun tetap menginginkan manfaat yang maksimal mungkin anda dapat mengkombinasikan asuransi kesehatan cashless anda dengan asuransi kesehatan cashplan, sehingga “premi asuransi kesehatan” yang anda bayarkan akan lebih minim dengan manfaat yang cukup besar.

Sumber : http://www.asuransijiwaku.com/premi-asuransi-kesehatan-yang-palingmurah.html

Sabtu, 05 Januari 2013

Jangkauan Asuransi tak sampai Masyarakat Bawah

Industri asuransi jiwa di Indonesia belum menjangkau masyarakat bawah. Pemasaran produk-produk asuransi yang ada masih terbatas di kota besar. Di lain sisi, kelas menengah-atas yang selama ini disasar industri asuransi juga baru tergarap 18%, sehingga potensinya masih sangat besar.

Dari 50 juta kelas menengah atas di Indonesia, pemegang polis individu baru 8,88 juta, sehingga masih ada 40 juta lebih yang belum memiliki polis. Densitas asuransi atau rasio premi per kapita baru mencapai Rp 472 ribu. Demikian pula rasio jumlah polis terhadap populasi di Indonesia jauh lebih rendah dibanding Negara tetangga di Asean.

Demikian terungkap dalam diskusi panel “Prospek dan Tantangan Industri Asuransi 2011” yang digelar dalam acara penganugerahan penghargaan Perusahaan Asuransi Terbaik 2011 versi majalah Investor di Jakarta, Rabu (6/7).

Tampil sebagai pembicara kunci adalah Ketua Bapepam-LK Nurhaida. Sedangkan bertindak sebagai panelis adalah Kepala Biro Perasuransian Bapepam-LK Isa Rachmatarwata, Ketua Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) Hendrisman Rahim, Ketua Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) Kornelius Simanjuntak, dan pengamat asuransi Munir Sjamsoeddin, dengan moderator Direktur Berita Satu Media Holdings Primus Dorimulu.

sumber : http://www.investor.co.id/home/asuransi-belum-jangkau-masyarakat-bawah/15427

Rabu, 02 Januari 2013

Meningkatkan Penetrasi Asuransi

Asuransi menjadi salah satu pilar industri keuangan nasional yang kian penting. Dari sisi kinerja, asuransi nasional tumbuh mengesankan, baik asuransi jiwa, umum, reasuransi, maupun asuransi sosial. Pertumbuhan aset, permodalan, dan pendapatan premi asuransi tahun 2011 mencapai tiga kali lipat dari pertumbuhan ekonomi nasional.

Kendati performanya kian meyakinkan, industri asuransi nasional menghadapi sejumlah tantangan.

Pertama, penetrasi asuransi masih terbatas. Rasio premi asuransi individu terhadap produk domestik bruto (PDB) baru sekitar 1,8%, relative tidak ada kemajuan. Jumlah polis per penduduk masih sekitar 0,04 atau satu polis untuk empat orang, jauh tertinggal dari negara lain di Asean seperti Malaysia yang mencapai 0,43 atau satu polis dua orang dan Singapura 2,34, dua polis satu orang.

Kedua, industri asuransi nasional menghadapi liberalisasi di Asean terkait Asean Insurance Community 2015. Itu berarti, tiga tahun lagi agen-agen asuransi negara-negara di Asean bebas menawarkan produk, sehingga merupakan ancaman bagi agen dan sumber daya manusia (SDM) asuransi nasional.

Ketiga, industri asuransi dihadapkan pada cekaknya permodalan. Masih banyak asuransi yang bermodal di bawah Rp 100 miliar, padahal itu merupakan batas modal minimum yang harus dipenuhi pada 2014.

Keempat, pengalihan pengawasan asuransi dari Bapepam-LK ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK) merupakan tantangan tersendiri. Otoritas baru ini harus lebih baik dalam menegakkan peraturan dan mengembangkan industri.

Kelima, kinerja finansial asuransi yang cukup solid tidak berjalan parallel dengan kinerja harga saham di Bursa Efek Indonesia (BEI). Saham emiten asuransi umumnya cenderung stagnan dan bukan favorit investor. Tantangan keenam adalah ketidakpastian krisis Eropa yang belum jelas ujungnya, sehingga dapat berimbas ke industri asuransi nasional.

Dengan sederet kendala tersebut, seluruh pelaku industri asuransi harus membuat berbagai terobosan dan strategi. Terkait dengan rendahnya penetrasi asuransi, sudah saatnya perusahaan asuransi, asosiasi, dan pemerintah merumuskan visi bersama guna menciptakan gerakan besar-besaran masyarakat berasuransi.

Pelaku industri asuransi nasional juga perlu mendukung program financial inclusion, karena rendahnya akses masyarakat ke produk asuransi. Seperti diketahui, sekitar 49% penduduk Indonesia belum memiliki akses terhadap layanan finansial, termasuk asuransi.

Keterbatasan akses juga terjadi pada asuransi sosial. Sebagai gambaran, saat ini baru 39% penduduk yang tercakup dalam berbagai skema jaminan kesehatan, hanya 4% pekerja formal yang mendapat jaminan kesehatan Jamsostek, dan hanya 1% pekerja informal yang mendapat layanan jaminan sosial.

Potensi pasar asuransi di Indonesia sangat besar. Hal itu terlihat dari pertumbuhan PDB yang tinggi, jumlah penduduk besar dan mayoritas berusia muda, dan pesatnya pertumbuhan kelas menengah. Jangan sampai pasar yang menggiurkan ini menjadi lahan pesta pora bagi asing, terutama ketika terjadi liberalisasi sector keuangan Asean pada 2015. Saat ini saja, 80% pasar asuransi sudah dikuasai oleh lima perusahaan patungan (joint venture).

Bertujuan agar industri asuransi lebih berkembang, pemerintah perlu memberikan insentif pajak bagi produk-produk asuransi karena merupakan dana panjang yang bermanfaat untuk pembiayaan infrastruktur. Misalnya, dana masyarakat, karyawan, atau perusahaan yang dibelanjakan untuk asuransi jangka panjang dimasukkan sebagai pendapatan tidak kena pajak.

Selain itu, dana asuransi yang diinvestasikan di deposito perlu diturunkan tarif pajaknya, jangan 20%. Sementara itu, pengalihan pengawasan dan pengaturan asuransi dari Bapepam-LK ke OJK diharapkan justru memberikan ruang bagi industri asuransi untuk lebih pesat berkembang.

Dalam konteks ini, perlu sebuah harmonisasi peraturan di antara sesama otoritas keuangan karena produk-produknya saling terkait. Aspek lain yang tak kalah penting adalah kualitas SDM dan layanan. Sebagian citra agen asuransi selama ini masih kurang bagus, karena hanya bermuka manis ketika merayu nasabah namun mempersulit saat terjadi klaim. Untuk itu, sertifikasi dan lisensi merupakan hal yang tidak bisa ditawar bagi setiap agen asuransi.

Selama para pemangku kepentingan berkomitmen untuk mengatasi berbagai tantangan tersebut, bukan hal sulit untuk mendongkrak penetrasi asuransi. Seiring dengan itu, industri asuransi nasional pun diyakini mampu berkompetisi ketika liberalisasi tiba.

sumber : http://www.investor.co.id/home/mendongkrak-penetrasi-asuransi/39836

Selasa, 01 Januari 2013

Penetrasi Asuransi Belum Mencapai Hasil

Ada perasaan “mendua” saat menyimak kinerja industri asuransi nasional. Di satu sisi, kita bangga karena industri asuransi nasional tumbuh amat meyakinkan dalam beberapa tahun terakhir. Kinerja perusahaan-perusahaan asuransi di Tanah Air —baik asuransi umum, asuransi jiwa, maupun reasuransi— cukup mengesankan. Premi meningkat signifikan. Namun, di sisi lain, jumlah pemegang polis relative tidak bertumbuh.

Tahun lalu, aset asuransi jiwa, umum, dan reasuransi mencapai Rp 229,20 triliun, naik 26% dibanding tahun sebelumnya Rp 181,80 triliun. Adapun pendapatan premi meningkat 20,2% menjadi Rp 104,27 triliun. Hasil investasi juga tumbuh 9,29% menjadi Rp 25,11 triliun, sedangkan laba bersih melonjak 22,29% menjadi Rp 8,89 triliun.

Angka-angka ini cukup mengesankan. Tapi, pada saat yang sama kita harus mengurut dada. Sebab, industri nasional masih tersandera oleh disparitas jumlah premi dengan jumlah nasabah baru. Peningkatan jumlah premi yang luar biasa besar, terutama pada asuransi jiwa, tidak sejalan dengan pertumbuhan jumlah nasabah baru. Artinya peningkatan premi masih berasal dari pemegang polis yang sama. Penetrasi asuransi jiwa baru 1,85%.

Dari tahun ke tahun, kesenjangan jumlah premi dengan jumlah nasabah semakin lebar. Pada 2005, misalnya, premi asuransi jiwa mencapai Rp 22,29 triliun, tapi pemegang polis individu hanya 5,12 juta. Tahun silam, ketika premi asuransi jiwa mencapai Rp 74,64 triliun, pemegang polis individu cuma 8,88 juta.

Perbandingan jumlah polis di Indonesia pun masih kalah jauh disbanding negara lain. Dengan populasi 237,56 juta jiwa, jumlah polis kita hanya 16,75 juta. Berarti, perbandingan polis per populasi cuma 0,07. Padahal, perbandingan polis per populasi Malaysia dan Singapura masing-masing sudah mencapai 0,44 dan 2,31.

Industri asuransi nasional juga masih terdistorsi oleh unit link. Saat ini, porsi proteksi pada unit link hanya sekitar 10%, sedangkan 90% lainnya dalam bentuk investasi. Alhasil, risiko pun lebih banyak ditanggung nasabah. Padahal, unit link saat ini mendominasi premi asuransi jiwa nasional.

Dari sisi kualitas, sebagian besar agen asuransi yang notabene menjadi ujung tombak industri ini, jelas belum memenuhi standar. Hingga akhir 2010, dari total 242.984 agen, baru 93.998 agen asuransi jiwa yang tersertifikasi (38,6%). Akibatnya, kita belum bisa sepenuhnya berharap agen-agen asuransi jiwa menjadi konsultan keuangan (financial planner) sebagaimana diinginkan Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI).

Masalah yang menelikung asuransi umum tak kalah krusialnya. Asuransi umum sangat miskin ide dan minim kreativitas produk. Perusahaan- perusahaan asuransi umum sejauh ini hanya fokus menggarap segmen kendaraan bermotor dan properti, sehingga mereka terus-menerus terjebak dalam perang tarif.

Sungguh praktik bisnis yang tidak sehat. Padahal, tak lama lagi, asuransi umum bakal menjalani babak baru. Pada akhir 2014, seluruh asuransi umum harus memenuhi modal minimum Rp 100 miliar.

Dari sekian banyak “duri dalam daging” industri asuransi nasional, persoalan paling besar dan mendasar adalah liberalisasi. Setelah dibolehkan memiliki saham lebih dari 80% di sector asuransi, perusahaan asing yang kaya modal dan teknologi, punya jaringan luas dan SDM berkualitas, kini mendominasi industri asuransi nasional. Gara-gara liberalisasi itulah, rivalitas asing dengan lokal menjadi amat tidak seimbang. Bahkan, sekitar 80% premi asuransi jiwa telah dikuasai perusahaan asing dan patungan.

Tentu kita berharap berbagai persoalan yang dihadapi industri asuransi nasional dapat segera diselesaikan, satu per satu, tuntas, tanpa mencederai hakikat bisnis asuransi itu sendiri. Para pemangku kepentingan, terutama pemerintah dan pelaku bisnis asuransi, harus memiliki visi yang sama bahwa industri asuransi adalah aset nasional yang harus dirawat, dijaga, dan didorong agar memberikan akselerasi yang optimal bagi perekonomian di dalam negeri, mengingat kontribusi sektor asuransi terhadap produk domestik bruto (PDB) masih sangat minim, baru sekitar 1,9%.

Apalagi pada 2015, kita sudah bertarung dalam Asean Community. Kita seyogianya menaruh keyakinan yang kuat bahwa populasi negeri ini yang terus tumbuh, pendapatan per kapita yang terus naik, dan penetrasi pasar yang masih rendah menunjukkan  besarnya potensi tumbuh perusahaan asuransi. Jika pasar ini digarap dengan baik, perusahaan asuransi Indonesia akan menjadi raksasa dunia.Tapi, kita juga mengharapkan agar perusahaan asuransi menggarap pasar masyarakat menengah bawah yang selama ini belum tersentuh.

sumber : http://www.investor.co.id/home/penetrasi-asuransi-masih-sangat-kecil/15436

Senin, 31 Desember 2012

Inilah 9 Perusahaan Asuransi Terbaik 2012

Sebelumnya, Majalah Investor memberikan penghargaan kepada sembilan perusahaan asuransi nasional yang berhasil meraih predikat Asuransi Terbaik 2012, meliputi 4 asuransi jiwa, 4 asuransi umum dan satu reasuransi.

Dalam acara penganugerahan penghargaan Asuransi Terbaik 2012 di Ballroom, Four Season Hotel, Jakarta, Rabu (4/7) malam, Majalah Investor juga memberikan penghargaan khusus kepada satu asuransi umum dan satu asuransi jiwa, dan Star Award kepada satu perusahaan asuransi.

Pada kelompok asuransi jiwa, PT Prudential Life Assurance  berhasil  meraih posisi terbaik untuk kategori aset di atas Rp 15 triliun.  Pada kategori aset antara Rp 5 triliun sampai Rp 15 triliun, penghargaan diberikan kepada PT AXA Mandiri Financial Services.

Sementara itu, PT Panin Life berhasil meraih posisi terbaik pada kategori aset Rp 3 triliun sampai Rp 5 triliun, disusul PT Asuransi Jiwa Adisarana Wanaartha yang meraih posisi terbaik untuk kategori aset di atas Rp 1 triliun hingga Rp 3 triliun.  

Pada kelompok asuransi umum, 4 perusahaan terbaik tahun ini diisi pemenang-pemenang baru. PT Asuransi Sinarmas meraih penghargaan untuk kategori aset di atas Rp 3 triliun. PT Asuransi Bina Dana Arta Tbk  berhasil menjadi perusahaan asuransi terbaik untuk kategori aset antara Rp 1 triliun sampai Rp 3 triliun. Posisi terbaik untuk kategori aset Rp 500 miliar sampai Rp 1 triliun diraih PT Asuransi Bangun Askrida, sedangkan PT Asuransi Umum Mega meraih posisi terbaik untuk kategori aset  antara Rp 250 miliar sampai Rp 500 miliar.

Sementara itu, pada kategori reasuransi,  PT Maskapai Reasuransi  Indonesia Tbk kembali mempertahankan prestasi tahun lalu sebagai Reasuransi Terbaik.

Ke-9 perusahaan asuransi  terpilih sebagai perusahaan asuransi terbaik pada kelompoknya masing-masing, setelah melewati seleksi awal dan  proses pemeringkatan versi Majalah Investor dengan sejumlah kriteria pemeringkatan.

Investor juga memberikan penghargaan khusus, untuk asuransi jiwa berdasarkan pertumbuhan investasi tertinggi selama lima tahun kepada PT Asuransi Jiwa Adisarana Wanaartha,  dan penghargaan khusus untuk asuransi umum berdasarkan pertumbuhan underwriting tertinggi  selama lima tahun kepada PT Asuransi Jaya Proteksi.

Tahun ini, Star Award kembali diberikan  untuk PT Prudential Life Assurance sebagai  asuransi Jiwa yang berhasil mempertahankan posisi terbaik selama 10 tahun berturut-turut.

Kriteria Pemeringkatan
Ketua Dewan Juri Herris Simandjuntak mengatakan, pemeringkatan tahun ini  mengacu pada laporan keuangan publikasi tahun 2008 – 2011. Berdasarkan data-data tersebut, kemudian dilakukan perhitungan dan penilaian  berdasarkan kriteria yang disepakati untuk asuransi jiwa maupun asuransi umum.

“Penetapan asuransi terbaik mengacu pada data laporan keuangan hasil publikasi yang kemudian di peringkat berdasarkan kriteria pemeringkatan yang disepakati,” ujar Herris dalam acara tersebut.

Pemeringkatan  kali ini menggunakan 14 kriteria, baik untuk asuransi umum, asuransi jiwa, maupun reasuransi. Kriteria untuk asuransi umum meliputi, pertumbuhan aset rata-rata 3 tahun (2008–2011), pertumbuhan jumlah investasi rata-rata 3 tahun (2008-2011), pertumbuhan ekuitas rata-rata 3 tahun (2008-2011), pertumbuhan premi  penutupan langsung 3 tahun (2008-2011), pertumbuhan  premi neto rata-rata 3 tahun (2008-2011), pertumbuhan hasil underwriting rata-rata 3 tahun (2008-2011), pertumbuhan hasil investasi rata-rata 3 tahun (2008-2011), pertumbuhan laba bersih rata-rata 3 tahun (2008-2011), pangsa pasar premi neto tahun 2011, rasio underwriting terhadap premi neto 2011, TATO (Total Aset Turn Over) 2011, ROA (return on assets) 2011, ROE (return on equity) 2011, dan RBC (risk based capital) 2011.

Sementara  itu, 14  kriteria untuk asuransi umum, mayoritas sama dengan asuransi  jiwa, kecuali  kriteria  pertumbuhan premi penutupan langsung 3 tahun (2008-2011) yang khusus berlaku untuk asuransi umum. Lalu pertumbuhan hasil underwriting 3 tahun (2008-2011) dan rasio underwriting terhadap premi neto yang berlaku untuk asuransi umum dan reasuransi.  Sedangkan kriteria pertumbuhan premi bruto 3 tahun khusus berlaku untuk reasuransi.

Tidak semua perusahaan asuransi ikut diperingkat. Ada sejumlah perusahaan tidak lolos seleksi awal  berdasarkan persyaratan yang ditetapkan Dewan Juri.  Seleksi  awal meliputi, laporan keuangan 2011 yang dipublikasi harus sudah diaudit, laporan keuangan 2011 tidak mendapat opini disclaimer,  RBC minimal  120%, masih beroperasi hingga pemeringkatan ini dibuat,  tidak dalam status PKU (pembatasan kegiatan usaha) oleh Departemen Keuangan, tidak dalam kondisi khusus (run off, masa transisi, dll), ekuitas minimal Rp 50 miliar, aset asuransi umum tahun 2011 di atas Rp 100 miliar, aset asuransi jiwa tahun 2010 di atas Rp 1 Triliun, tidak menderita rugi tahun 2011, serta data lengkap.

Berdasarkan seleksi awal, ada 22 perusahaan asuransi jiwa dan 53  asuransi umum yang tidak lolos seleksi awal.

Selain itu, ada 3 perusahaan asuransi jiwa syariah tidak ikut diperingkat dengan pertimbangan tidak selaras diperingkat bersama asuransi non-syariah. Dengan demikian, yang bisa diperingkat sebanyak 57 perusahaan, masing-masing 4 perusahaan reasuransi, 23 asuransi umum dan  30 asuransi jiwa.

Sumber : http://www.investor.co.id/home/sembilan-perusahaan-asuransi-terbaik-2012/39790

Selasa, 25 Desember 2012

Definisi Tentang Asuransi Jiwa

Pengertian dari Asuransi Jiwa ialah pelimpahan resiko atas kerugian berupa keungan oleh tertanggung kepada pihak penanggung. Resiko dari pihak tertanggung tersebut kepada penanggung bukanla resiko atas hilangnya jiwa, akan tetapi merupakan kerugian berupa keuangan sebagai ganti rugi hilangnya jiwa seseorang atau karena dengan alasan umur sehingga tidak produktif.

Konsep resiko dari Asuransi Jiwa dilihat dari nilai ekonomi hidup seseorang kepada keluarganya serta seberapa besar penghasilannya. Apabila nilai ekonomi sebagai kepala keluarga hilang atau berkurang maka yang akan merasakan kehilangan adalah sanak keluarganya. Resiko dari kehilangan penghasilan yang harus di tanggung oleh keluarganya yang ditinggalkan.

Untuk mengurangi resiko tersebut pada zaman modern ini telah ditempuh satu cara dengan mengalihkan atau melimpahkan resiko tersebut kepada pihak lain, dalam hal ini Lembaga Asuransi Jiwa yang mengkhususkan usahanya dibidang ini sebagai profesinya. Pelimpahan resiko tersebut lebih popular disebut dengan membeli polis asuransi jiwa.

Jenis Resiko yang Dapat Dipertanggungkan
Sepanjang hidup manusia selalu dihadapkan kepada kemungkinan terjadinya peristiwa-peristiwa yang dapat menyebabkan lenyap atau berkurangnya nilai ekonominya . Ini mengakibatkan kerugian bagi diri sendiri dan keluarganya atau orang lain yang berkepentingan. Dengan kata lain, manusia selalu menghadapi peristiwa-peristiwa yang akan menimbulkan resiko sebagai berikut;

(1) Meninggal dunia (death) baik secara alamiah (natural death) maupun meninggal pada usia muda karena sakit, kecelakaan (accidental death) dan lain sebagainya.
Setiap orang pasti akan meninggal dunia, meskipun tidak pasti kapan hal tersebut akan terjadi. Kematian pencari nafkah akan berakibat hilangnya sumber pendapatan bagi yang berkepentingan. Oleh karena itu diperlukan jaminan keuangan dalam jangka waktu tertentu selama yang ditinggalkan belum dapat menyesuaikan diri dengan kondisi baru.

(2) Cacat badan (disability) karena sakit atau kecelakaan.
Sebagai akibat sakit atau kecelakaan, seseorang secara fisik atau mental tidak dapat bekerja sementara sehingga mempengaruhi penghasilan. Sedangkan jika seseorang menderita cacat total dan tetap, mereka tidak dapat bekerja sama sekali.

(3) Penyakit kritis
Penyakit kritis bisa datang sewaktu-waktu tanpa memandang usia, apakah seseorang itu masih muda atau sudah tua. Penyakit kritis itu tidak dapat diketahui kapan datangannya dan tidak dapat diketahui dengan pasti.

(4) Umur tua (old age) / Pensiun
Peristiwa hari tua pasti akan terjadi, tetapi berapa lama kehidupan hari tua tersebut berlangsung, tidak bisa diketahui dengan pasti.

(5) Pendidikan
Perkembangan dunia pendidikan semakin lama semakin bagus. Biaya seorang anak yang akan melanjutkan pebndidikan semakin lama pun semakin mahal. Orang tua harus bisa mensiasati perkembangan dunia pendidikan dengan sangat serius, karena biaya pendidikan sekarang dan sepuluh tahun kedepan pasti jauh berbeda peningkatanya.

Jenis-jenis polis asuransi jiwa
Dari berbagai macam jenis asuransi jiwa yang tersedia saat ini, pada dasarnya ada 3 jenis asuransi jiwa;
1. Asuransi jiwa berjangka ( Term Insurance)
Merupakan kontrak asuransi jiwa dimana uang pertanggungan dibayarkan hanya jika kematian terjadi dalam periode masa pertanggungan asuransi masih berlaku. Term Insurance adalah bentuk asuransi yang paling sederhana dan paling tua. Jenis asuransi ini terkadang disebut juga asuransi sementara, sesuai dengan asuransinya. Jumlah premi pada asuransi ini juga termurah dibandingkan dengan asuransi jiwa seumur hidup dan asuransi jiwa Dwiguna.

2. Asuransi Jiwa Seumur Hidup (Whole Life Insurance)
Asuransi Jiwa seumur hidup dirancang untuk menyediakan proteksi seumur hidup Tertanggung selama ia menjaga polisnya tetap aktif dengan melalui pembayaran premi polisnya. Selain proteksi meninggal, polis in juga menyediakan elemen tabungan yang dikenal sebagai nilai tunai yang timbul karena premi tetap.

3. Asuransi Jiwa Dwiguna
Asuransi ini terdiri dari dua elemen, yaitu proteksi jiwa dan tabungan. Proteksi jiwa memberikan perlindungan kematian. Elemen tabungan pada asuransi ini lebih tinggi sehingga sesuai untuk tujuan menabung. Dengan adanay elemen tabungan yang lebih tinggi dibandingkan dengan Asuransi Berjangka dan Asuransi Jiwa seumur Hidup

4. Asuransi Jiwa Unitlink
Selain ketiga jenis polis di atas atau disebut juga polis tradisional, dalam bisnis asuransi jiwa dikenal pula polis asuransi Unitlink. Polis asuransi jiwa Unitlink menggabungkan komponen asuransi dengan dana investasi. Polis ini memberikan pemegang polis perlindungan asuransi jiwa sekaligus kesempatan untuk berpartisipasi dalam investasi yang dikelola oleh perusahaan asuransi. Dana yang ditempatkan dalam produk dipotong untuk perlindungan asuransi dan sisanya diinvestasikan dalam bentuk unit dari dana yang terkait.
Tujuan dari polis ini adalah untuk investasi. Dengan mengaitkan hasil investasi polis unitlink dengan kinerja dari sebuah dana, pemegang polis berpotensi mendapatkan hasil investasi lebih tinggi daripada polis tradisional. Risiko investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab pemegang polis dan kemungkinan nilai polis bisa turun. Jadi, walalupun hasil investasi polis berpotensi lebih besar, dari polis tradisioanl, resiko investasinya juga besar.

Jenis-jenis Produk Unitlink
1. Premi Tunggal
Untuk premi tunggal, premi dibayarkan sekaligus (lump sum) dan digunakan untuk membeli unit dari suatu dana.

2. Premi Berkala atau Premi Reguler
Untuk jenis ini premi dibayar secara berkala atau reguler. Unit dibeli begitu premi diterima.

sumber : http://perencanaankeuangan.blogdetik.com/2009/08/24/mengenal-asuransi-jiwa/

Senin, 24 Desember 2012

Pengertian dan Sejarah singkat Asuransi di Indonesia

Asuransi ialah berfungsi sebagai alat mekanisme untuk menghindari atau mengalihkan resiko dari satu pihak tertanggung kepada pihak lain penanggung. Pengalihan dari resiko ini tidak akan menuntut kemungkinan misfortune, melainkan penanggung yang menyediakan segala pengamanannya serta ketenangan bagi tertanggung. Sebagai buruhannya, pihak tertanggung akan membayarkan premi dengan jumlah yang relatif kecil apabila di bandingkan dengan nilai angka kerugian yang memungkinkan akan dideritanya.

Polis asuransi adalah suatu kontrak yaitu sebuah perjanjian sah diantara pihak penanggung dan tertanggung, Dimana pihak penanggung akan bersedia untuk menanggung semua jumlah kerugian yang kemungkinan akan timbul dimasa yang akan datang tanpa sepengetahuan dengan imbalannya dari pembayaran premi tertentu dari pihak tertanggung.

Menurut sejarahnya, Bisnis asuransi mulai masuk kedalam negri Indonesia yaitu pada zaman waktu penjajahan belanda. Dimana pada saat itu negara Indonesia masih disebut Nederlands Indie. Adanya asuransi di Indonesia adalah akibat dari bangsa belanda dalam keberhasilannya didalam sektor perkebunan dan perdagangan.

Untuk menunjang keberhasilan usahanya, maka di haruskan adanya asuransi mutlak diperlukan. Dengan demikian usaha perasuransia di Indonesia akan terbagi menjadi dalam dua selama kurun waktu, yaitu zaman penjajahan sampai tahun 1942 dan zaman setelah perang Dunia ke dua atau zaman kemerdekaan.

Sekian dari artikel sederhana ini yang ditujukan sebagai artikel pendukung Commonwealth Life Perusahaan Asuransi Jiwa Terbaik Indonesia. Semoga artikel ini berguna sebagai mana mestinya, penulis mengucapkan terima kasih banyak atas kesediaan anda membaca artikel ini.

Jumat, 14 Desember 2012

Commonwealth Life Perusahaan Asuransi Jiwa Terbaik Indonesia

Dalam kehidupan manusia, jiwa dari setiap manusia dapat diasuransikan bertujuan memenuhi keperluan orang lain yang berkepentingan. Dapat diasuransikan dalam selama masa hidupnya atau pada waktu yang telah ditentukan dalam suatu perjanjian. Semua orang dapat mengajukanasuransi, sehingga pengaju asuransi dapat mengansurasikan orang tanpa sepengathuan atau persetujuan orang yang diasuransikan jiwanya. Commonwealth Life Perusahaan Asuransi Jiwa Terbaik Indonesia inilah jawabannya, yaitu sebagai perusahaan yang menawarkan layanan asuransi jiwa terbaik di Indonesia. 


Commonwealth Life telah berjaya melayani masyarakat sejak tahun 1992, namun pada saat itu dengan nama Astra Jardine. Kemudian berubah kembali menjadi Astra CMG Life hingga tahun 2007. Pada akhirnya, setelah memiliki Surat Keputusan dari MH dan HAM, maka dengan resmi berubah menjadi PT Commonwealth Life dan segera di populerkan pada juli 2007. Hingga saat ini saham Commonwalth Life dimiliki oleh CBA, CBG Asia Life Holdings Limited, Commwealth Life International Holdings PTY LTD dan PT Gala Arta Jaya. Dengan masing-masing pemilik merupakan perusahan asuransi jiwa terbaik dalam dunia internasional. Presiden direktur Commonwealth Life  yaitu bapak Simon Bennett pun juga, mengajak kepada para nasabah setia untuk maju lebih tinggi menjadikan perusahaan asuransi jiwa terbaik.

Commonwealth Life Perusahaan Asuransi Jiwa Terbaik Indonesia, dalam pelayanan kepada pelanggan merupakan sebuah kalimat visi dan misi utama dari Commonwealth Life. Berkembang dan selalu mengembangkan untuk menjadi yang terbaik, Commonwealth Life telah berhasil tersebar 19 kota-kota besar di Indonesia.

Berbagai prestasi telah diraih begitu juga dengan perkembangan pada perusahaan pelayanan asuransi jiwa ini. Commonwealth Life telah berkembang pesat, dimulai dari menduduki posisi 10 besar pada 2 inti kanal asuransi yaitu peringkat 9 di Agency dan 8 di Bancassurance serta menduduki posisi 4 di Telemarketing. Meskipun dengan demikian, Commonwealth Life tetap akan terus secara terus-menerus untuk menyempurnakan produk dan layanannya sebagaimana dengan visi misinya. Untuk menjadi yang terbaik dan tetap Berjaya di Indonesia bahkan dunia Internasional.

Inilah produk-produk Commonwealth Life yang ditawarkan seperti :
•    Proteksi, simpanan & Investasi dalam program unit link (Investra Link)
•    Asuransi jiwa tradisional (Danatra Cendekia, Danatra Sejahtera)
•    Perlindungan terhadap tabungan dan kredit (COMM Protection)
•    Program asuransi tambahan (asuransi kecelakaan, jaminan rawat inap, penyakit kritis)
Commonwealth Life memiliki banyak program asuransi kumpulan dan perlingungan kredit yang bermitra dengan: PermataBank, Commonwealth Bank, Bank BTPN, BCA Finance, BII Maybank, Bank BNP, Bank OCBC NISP, Bank Index, Bank Mayora, Adira Insurance dan Olympindo Multifinance. Serta mendistribusikan semua produk-produknya kepada Mitra bank ataupun Non-Bank melalui program Bancassurance yang bermitra dengan: Citibank, BCA Card, AstraWorld, Telkomsel, PermataBank, Commonwealth Bank, Astra Credit Companies

Demi keamanan dan kenyamanan dalam Asuransi jiwa pada pelayanannya, Commonwealth Life bermitra dengan perusahaan ternama reasuransi bereputasi tingkat internasional dengan memberikan rating penilaian pada Commonwealth Life yaitu :
•    Cologne Re (rating AA+ oleh Standard Credit Rating)
•    Gen Re (rating AA+ oleh Standard & Poor's)
•    Marein (rating A oleh Pefindo)
•    MetLife (rating A+ oleh Standard & Poor's)
•    Munich (rating AA- oleh Standard & Poor's)
•    ReIndo - Reasuransi Indonesia (rating A+ oleh Pefindo)
Seiring waktu ke waktu berjalan, semakin berkembangnya Commonwealth Life. Disamping itu, secara pembuktian mendapatkan berbagai penghargaan dari berbagai lembaga bergensi. Dari tahun 2003 sampai 2012 Commonwelath Life selalu mendapatkan penghargaan. Penghargaan tersebut diberikan kepada karyawan, daya penjualan, nasabah, mitra dan masyarakat disekitar.

Kesadaran dengan tanggung jawab social kepada masyarakat untuk melayani Asuransi jiwa terbaik, tidak akan dilupakan oleh Commonwealth Life. Dari tahun 2005 sampai tahun 2012 saat ini, tetap aktif melaksanakan kegiatan mulia yang di bantu oleh lembaga-lembaga social masyarakat demi kelancaran kegiatan untuk saling membantu antar sesama. Kegiatan pada tahun ini, telah dilaksanakan kegiatan CSR Yayasan Aulia, CSR Ramadhan, Ulang Tahun Commonwealth Life yang ke 20 tahun dan CSR Bukittinggi.

Kepedulian Commonwealth Life terjadi karena prinsip yang diungkapkan pada sambutan presiden direktur Simon Bennett. Yaitu bernara sumber dari McKinsey Gloal Institute yang menyatakan bahwa perekonomian Indonesia ada pada peringkat 16 dunia. Sehingga kemajuan sebuah negara ada di tangan bangsanya itu sendiri. Betapa luar biasanya kepedulian Commonwealth Life kepada masyarakat Indonesia dan sesuai dengan impiannya yaitu Commonwealth Life Perusahaan Asuransi Jiwa Terbaik Indonesia. Untuk lebih detai kelanjutannya silahkan kunjungi Asuransi Jiwa Indonesia (www.commlife.co.id).